Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Download
--------------------

Beliau dilahirkan di Negeri Champa, yang pada masanya adalah merupakan kerajaan Melayu Islam yang besar dan berpengaruh. Begitu berpengaruhnya kerajaan ini sampai sampai kerajaan Majapahit dan Kerajaan disekitar Asia Tenggara menjalin kerjasama dengan kerajaan ini, Kerajaan Champa betul-betul sangat terkenal pada masa itu. Hal-hal yang berbau Champa betul-betul melekat, bahkan putri-putri champa sangatlah dikenal kaum bangsawan di bumi Nusantara. Kebanggaan akan muncul tatkala bangsawan bangsawan kerajaan Nusantara bisa bersanding dan mendapatkan putri putri bangsawan champa untuk dinikahi. Champa yang mulai mendapat pengaruh Islam dengan penguasa penguasa pendahulunya yang beragama Islam yaitu Sayyid Ali Nurul Alam yang juga bergelar MAULANA MALIK ISRAIL atau SULTAN QONBUL atau ARYA PATIH GAJAH MADA, ternyata dalam proses perjalanan kerajaan ini cukup mendapatkan wibawa di mata kerajaan lain.

MAULANA MALIK ISRAIL adalah gelar kebesaran dari SAYYID ALI NURUL ALAM karena pengaruhnya mampu menembus kalangan Yahudi yang berada di kawasan Timur Tengah, terutama pada kantong kantong wilayah Yahudi. Artinya dia bukanlah orang Yahudi seperti apa yang pernah ditulis di sebuah situs internet. Champa sendiri adalah sebuah kerajaan islam yang ironis karena sampai saat ini masih sering mengundang perdebatan. Namun berdasarkan jalur perjalanan para Walisongo, bahwa Champa diperkirakan berada Di India, berdekatan dengan wilayah Kesultanan Naserabad pada masa lalu. Kesultanan Naserabad Kuno sendiri adalah cikal bakal munculnya keluarga besar walisongo.

Kesultanan Naserabad adalah sebuah wilayah pemerintahan Islam yang pemimpinnya dipegang oleh keluarga besar dari SAYYID ABDUL MALIK AZMATKHAN, yang merupakan cikal bakal leluhurnya walisongo. Sedangkan kota champa itu sampai sekarang masih ada di sebuah wilayah distrik India. Sedangkan Naserabad India, posisinya kini berada di Negara India yang berdekatan dengan kota Rajishtan dan Ajmer pada masa sekarang.

Dari kota Champa yang merupakan daerah Kesultanan Nasirabad India kuno ini kemudian keluarga besar Walisongo bermigrasi ke wilayah Champa Kamboja. Inilah yang akhirnya mengundang penafsiran jika Champa berada di Vietnam Tengah, posisi Champa itu berdekatan dengan Pattani dan Kelantan. Dari wilayah Champa Kamboja atau Vietnam Tengah ini mereka bergerak lagi ke wilayah Kesultanan Patani, Kesultanan Kelantan dan Kesultanan Malaka. Sayangnya kejayaan Champa dengan simbol-simbol KEISLAMAN seperti tidak berbekas lagi, jangankan artefak, makam, peninggalan dalam bentuk tulisan, dapat dipastikan semua itu hampir tidak ada, yang ada cerita-cerita kejayaan Islam Champa dari beberapa warga etnis champa yang masih tersisa pada saat ini.

Kerajaan Champa yang pernah mengalami masa jaya beberapa periode terutama dari masa Sayyid Ali Nurul Alam sampai anaknya Abdullah Umdatudin betul-betul hilang dari bumi Asia Tenggara. Kerajaan Champa dulunya pernah menjadi negara Islam saat ini sejarahnya telah dilenyapkan oleh rezim penguasa Vietnam pada masa lalu bahkan sampai sekarang, mereka tidak pernah mau mengakui bahwa negara mereka pada masa lalu adalah negara besar ISLAM! Namun sampai saat ini walaupun Kerajaan Champa telah hilang ditelan zaman, namun ternyata sebagian etnis ini masih eksis di beberapa tempat, bahasa yang mereka pakai adalah bahasa Melayu.

Dalam kondisi kerajaan yang terus berkembang pada kerajaan champa ini, maka lahirlah seorang anak yang bernama Sayyid Hasan atau kelak nanti bernama Raden Hasan dan setelah menjadi Sultan Demak sering disebut Raden Fattah. Beliau lahir pada Hari Senin Tanggal 22 Bulan Shofar Tahun 827 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 24 Januari 1424 Masehi. Raden Fattah bukan lahir pada tahun 1455 Masehi seperti yang selama ini beredar, sebab nanti Tahun 1466, Raden Fattah menjadi anggota Walisongo, sehingga sangat mustahil ia menjadi anggota walisongo dalam usia 11 tahun!

Raden Fattah lahir di Kerajaan Champa lewat rahim Syarifah Zaenab binti Ibrahim Al Hadrami/ Ibrahim Al Ghazi/ Ibrahim As Samarkand/Ibrahim Asmorokondi Azmatkhan Al Husaini. Ibrahim Zainuddin Al Akbar As Samarkand atau Ibrahim Asmorokondi adalah saudara kandung dari Sayyid Ali Nurul Alam yang merupakan salah satu pejabat tinggi di Kesultanan Kelantan dan Patani. Ibrahim Asmorokondi ini sering disebut Wali Tertua dimasanya, khususnya wilayah Jawa Timur. Syarifah Zaenab sendiri adalah adik kandung dari Sayyid Ahmad Rahmatullah atau SUNAN AMPEL AZMATKHAN ALHUSAINI. Artinya Raden Fattah adalah keponakan dari Sunan Ampel. Saat kelahiran Raden Fattah di Champa, keberadaan Sunan Ampel masih ada di Champa untuk mengikuti dakwah ayahnya yaitu Ibrahim Zaenuddin Al Akbar Asmorokondi dan kakeknya yaitu Sayyid Husin Jamaludin atau Syekh Jumadhil Kubro. Ayah dari Raden Fatah sendiri adalah Sayyid Abdullah Umdatudin bin Sayyid Ali Nurul Alam bin Sayid Husin Jamaludin. Sayyid Abdullah Umdatudin adalah Raja Champa. Adapun Nasab Raden Fattah akan dijelaskan sebagai berikut.

NASAB RADEN FATAH 

Dari jalur ayah, nasab Raden fatah adalah :
1. Nabi Muhammad SAW
2. Fatimah Azzahra
3. Husein Asshibti
4. Ali Zaenal Abidin
5. Muhammad Al Baqir
6. Jakfar Asshodiq
7. Ali Al Uraidhi
8. Muhammad An Naqib
9. Isa Arrumi
10. Ahmad Al Muhajir
11. Ubaidhilah
12. Alwi Al Awwal
13. Muhammad Shohibus Souma’ah
14. Alwi Atsani
15. Ali Kholi’ Qosam
16. Muhammad Shohib Mirbath
17. Alwi Ammil Faqih
18. Abdul Mali Azmatkhan
19. Abdullah Azmatkhan
20. Sultan Syah Ahmad Jalaluddin
21. Husein Jamaludin/Syekh Jumadhil Kubro
22. Ali Nurul Alam/Maulana Malik Israil/Sultan Qonbul/Arya Patih Gajah Mada
23. Abdullah Umdatuddin/Sultan Champa/Maulana Hud
24. Raden Hasan/Raden Fattah/Sultan Demak 1

Sedangkan nasab dari ibunda Raden Fattah adalah :
1. Nabi Muhammad SAW
2. Fatimah Azzahra
3. Husein Asshibti
4. Ali Zaenal Abidin
5. Muhammad Al Baqir
6. Jakfar Asshodiq
7. Ali Al Uraidhi
8. Muhammad An Naqib
9. Isa Arrumi
10. Ahmad Al Muhajir
11. Ubaidhilah
12. Alwi Al Awwal
13. Muhammad Shohibus Souma’ah
14. Alwi Atsani
15. Ali Kholi’ Qosam
16. Muhammad Shohib Mirbath
17. Alwi Ammil Faqih
18. Abdul Mali Azmatkhan
19. Abdullah Azmatkhan
20. Sultan Syah Ahmad Jalaluddin
21. Husein Jamaludin/Syekh Jumadhil Kubro
22. Ibrahim Zaenuddin Al Akbar As Samarkand/Ibrahim Asmorokondi
23. Syarifah Zaenab/Thobiroh/Putri Champa >> melahirkan Raden Fattah

Ayah Raden Fattah bukanlah Brawijaya V atau Bhre Kertabumi Raja Majapahit terakhir dari Dinasti Raden Wijaya. Sebagian mengatakan bahwa orangtua yang dianggap selama ini sebagai ayah kandung Raden Fattah adalah Brawijaya IV atau Kertajaya, dan ini yang lebih mendekati fakta, bahwa yang dimaksud oleh banyak orang selama ini adalah Kertajaya itu bukan Kertabumi, dan dialah yang seharusnya dinyatakan sebagai ayah “kandung” Raden Fattah. Raden Fattah sendiri bila dibandingkan dengan Kertabumi atau Brawijaya 5 ternyata hampir seumuran usianya. Namun kenyataannya sampai saat ini ternyata Bre Kertabumi atau Brawijaya 5 inilah yang selama ini dipercaya masyarakat Jawa sebagai ayah Raden Fattah dan ini juga terdapat di dalam beberapa Babad seperti Babad Tanah Jawi Galuh Mataram.

Ayah Raden Fatah yang bernama Abdullah Umdatuddin sendiri adalah Raja Champa kedua dalam kerajaan Islam Champa di Vietnam Tengah (sebelumnya di wilayah Champa India) dan dikenal dengan nama lain di Malaka, Kelantan, Patani sebagai WAN BO. Abdullah Umdatuddin ini sering diartikan sebagai Sultan Mesir dalam sejarah yang berkaitan dengan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Padahal ia adalah Raja Champa. Kemungkinan besar kenapa ia dinamakan Sultan Mesir karena boleh jadi Mesir adalah satu medan dakwah dari Abdullah Umdatuddin. Dari Abdullah Umdatuddin akan banyak menurunkan orang orang yang bergerak dalam bidang politik pemerintahan serta ulama ulama besar.

Antara Sayyyid Abdullah Umdatudin dengan Syarifah Zaenab dan Sayyid Ahmad Rahmatullah atau Sunan Ampel adalah saudara sepupu. Pernikahan antar kerabat dalam keluarga walisongo itu adalah biasa.

Adapun anak-anak dari Abdullah Umdatudin sangat banyak, namun yang mahsyur dalam dunia nasab adalah:

  1. Ahmad Waliyullah atau Sultan Abul Muzhafar yang kelak menurunkan beberapa para sultan di Malaka, Patani, Kelantan, dan beberapa Kerajaan di Malaysia
  2. Sultan Babullah yang menurunkan sultan sultan di Ternate dan Maluku
  3. Sultan Nurullah yang menggantikan posisi Raja Champa berikutnya
  4. Syarif Hidayatullah yang kelak menurunkan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon
  5. Raden Fattah yang kelak menurunkan Kesultanan Demak

Adapun yang paling terkenal sebagai anak Sayyid Abdullah Umdatuddin adalah Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Kenapa sampai saat ini posisi Raden Fattah jarang sekali disebut dalam dunia nasab sebagai anak dari Abdullah Umdatudin (bahkan terkesan disembunyikan)? Hal ini disebabkan banyak faktor, salah satunya karena adanya pengkaburan dan manipulasi sejarah Kerajaan Islam oleh para kolonialis penjajah serta oknum oknum yang memang tidak menginginkan Islam dalam bentuk kekhalifahan berjaya di Bumi Nusantara ini.

Nasab Raden Fattah adalah salah satu nasab yang paling banyak mendapat pendustaan oleh kalangan yang tidak memahami sejarah perkembangan ilmu nasab. Nasab Raden Fatah adalah nasab yang paling sering dimanipulasikan oleh berbagai oknum demi kepentingan pribadi atau juga golongannya. Nasab Raden Fattah dapat dikatakan merupakan nasab yang sering dipermasalahkan oleh banyak sejarawan dan juga beberapa ahli silsilah karena dianggap “tidak memiliki” data primer. Padahal sebagai seorang sultan yang besar yang luas kekuasaannya hampir seluruh Jawa, sepertinya tuduhan seperti ini sangat aneh, karena pada kenyataannya nasab Raden Fattah telah tercatat dengan baik oleh kalangan Ulama Ahli Nasab khususnya Keluarga Besar Walisongo lebih khusus lagi keluarga Besar Sunan Kudus dan juga keturunan keturunan Raden Fattah sendiri, terutama keturunan Raden Fattah yang sumber nasabnya berasal dari pencatatan turun temurun dan berdasarkan catatan nasab dari Keturunan Keluarga Besar Sunan Kudus.

RADEN FATTAH & SUNAN KUDUS

Raden Fattah (Sultan Demak) adalah besan dengan Sunan Kudus, karena Dewi Ratih binti Raden Fattah menikah dengan Sayyid Amir Hasan bin Sunan Kudus dan melahirkan 19 anak. Anak yang paling tua bernama Sayyid Sholih bin Amir Hasan, yang bergelar Panembahan Pakaos (Sultan Ampel Kedaton). Dari Panembahan Pekaos kemudian menikah dengan Ratu Maduratna dan melahirkan Sayyid Ahmad Baidhowi (Pangeran Ketandur Bangkal yang kemudian menjadi Sultan Bangkalan Madura). Keturunan dari trah ini tercatat nama Syekh Sayyid Bahruddin Azmatkhan, Syekh Muhammad Kholil Bangkalan, Syekh As’ad Syamsul Arifin.

Ratu Maduratna binti Khalifah Ismail bin Khalifah Ibrahim bin Khalifah Sughra bin Khalifah Husain (Sultan/ Raja Madura Pertama/ Pendiri Kerajaan Madura).

GAMBARAN FISIK RADEN FATTAH

Raden Fattah memiliki perawakan yang tinggi dan tegap, tinggi beliau melewati angka 185 cm, kondisi fisik beliau ini mirip dengan Sunan Kudus yang tinggi dan tegap, dan ini nanti kelak banyak diturunkan kepada beberapa anak cucunya yang banyak memiliki fisik-fisik yang tinggi. Kulit beliau putih bersih seperti juga para walisongo, wajah beliau berkarakter tegas namun teduh, dan beliau memiliki wajah dengan tipe timur tengah (arab). Beliau selalu memakai pakaian keulamaan seperti juga walisongo dengan Imamah di kepala dan jubah. Sangat tidak benar jika ada foto Raden Fattah yang digambarkan dengan pakaian ala Kerajaan Majapahit, apalagi pakaian-pakaian kebesaran dari penjajah kolonial. Foto Raden Fattah yang beredar selama ini adalah palsu dan menyesatkan.

NAMA NAMA RADEN FATTAH

RADEN FATTAH mempunyai nama yang banyak, seperti kebiasaan para walisongo yang juga mempunyai banyak nama karena berbagai faktor, baik itu budaya, sosial, maupun politik.

Nama-nama beliau yang mahsyur adalah :

  1. Sayyid Hasan atau Raden Hasan (nama kecil dan dewasa dan nama yang terkenal saat beliau di nyantri di Pondok Pesantren Ampel) dan nama saat beliau di Palembang
  2. Sayyid Yusuf (panggilan kesayangan dari ibunya)
  3. Abdul Fattah/ Al Fattah (karena kemenangan Demak terhadap Majapahit, sekaligus orang yang pertama kali membuka kerajaan Islam di Jawa). Nama Al Fattah ini adalah menjadi Fam dari keturunan Raden Fattah, mereka disebut BANI AL FATTAH
  4. Senopati Jim Bun/Panembahan Jim Bun (karena penghormatan dari Etnis Tionghoa di Jawa terhadap peran dan wibawanya)
  5. Adipati Natapraja (saat Demak masih di bawah wilayah kerajaan Majapahit)
  6. Sultan Syah Alam Al Akbar/Sultan Surya Alam (saat beliau dilantik menjadi Sultan pertama Kesultanan Demak
  7. Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama (gelar yang mendapat pengakuan dari penguasa/Syarif Mekkah dan Palembang)
  8. Sultan Bintoro (berdasarkan nama sebuah hutan yang bernama Glagah Wangi dan kemudian dirubah namanya menjadi Bintara/Bintoro untuk dijadikan tempat pemerintahan beliau)

Ibunya dikenal dengan panggilan yang banyak di dalam kerajaan Majapahit, namun yang cukup akrab adalah Tobhirah terutama saat beliau masih di Champa. Sedangkan saat beliau sudah di Majapahit, ada yang mengatakan Dewi Drawati, Kencana Wungu, Nyai Endang, Putri China, Putri Champa, dll, sehingga banyak membuat orang terkecoh dan rancu akan sejarah dirinya. Namun dari semua nama yang populer, nama Drawati adalah nama yang paling terkenal. Ibunda Raden Fattah adalah seorang muslimah yang taat dan berilmu, karena pendidikan agamanya didapat langsung dari bapaknya yang merupakan walisongo angkatan pertama yaitu Ibrahim as samarkand atau IBRAHIM ASMOROKONDI. Ibunda Raden Fatah tidaklah hamil saat dicerai Brawijaya 5 (orang yang dianggap sebagai suami Drawati), beliau suci dari fitnah itu, karena pada kenyataannya Raden Fattah telah lahir di Champa. Ibunda Raden Fattah dimakamkan di Ampel berdekatan dengan Sunan Ampel. Beliau kembali Ke Ampel setelah suami ketiganya wafat terlebih dahulu di Palembang, yaitu Arya Dillah/Sultan Abdillah atau Arya Damar.

Artinya Raden Fattah nasab kedua orangtuanya adalah Alhusaini melalui jalur Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih yang merupakan keturunan Sayyidina Ahmad Al Muhajir (nenek moyangnya seluruh kaum Alawiyyin yang ada di Nusantara dan Asia Tenggara). Raden Fattah adalah keturunan ke 24 dari Rasulullah melalui ayah dan ibunya.

MASA KECIL DAN DEWASA RADEN FATTAH

Raden Fattah menghabiskan waktu kecilnya di Champa, dalam asuhan ibunda dan ayahnya yang tercinta yaitu Sayyid Abdullah Umdatudin dan Syarifah Zaenab/Thobiroh/Drawati. Namun masa kecil Raden Fatah tidaklah lama dalam kebahagiaan, karena Abdullah Umdatuddin dan Syarifah Zaenab berpisah karena Sultan Abdullah Umdatuddin kondisinya sering sakit-sakitan, sehingga tidak lama kemudian beliau akhirnya wafat, sehingga dengan kondisi yang sakit-sakitan dan uzur ini, maka Abdullah Umdatuddin menceraikan Istrinya ini, agar mencari kehidupan yang lebih layak guna untuk mendidik Raden fattah yang masih kecil. Oleh Sebab itu, Abdullah Umdatuddin mengusulkan agar mantan istrinya ini mengikuti saran Sunan Ampel untuk menikahi Raja Majapahit yang sudah masuk Islam yaitu Kertajaya (Brawijaya 4). Abdullah Umdatuddin pun tidak keberatan mantan istrinya itu menikah dengan Kertajaya karena hubungan Abdullah Umdatuddin dengan Kertajaya sangatlah baik, apalagi kerajaan mereka adalah sekutu. Abdullah Umdatudin pun memesan kepada Kertajaya melalui Sunan Ampel, agar Kertajaya mau untuk mendidik anaknya yaitu Raden Fattah seperti mendidik anaknya sendiri. Artinya Raden Fattah dititipkan Abdullah Umdatudin kepada Kertajaya untuk menjadi anaknya sendiri, namun tetap dalam didikan kerajaan yang dipenuhi etika dan tata krama.

Ibunda Raden Fattah dan juga Raden Fattah diberangkatkan dari Champa bersama dengan wali walisongo yang lain untuk menuju Majapahit. Perjalanan dari Champa menuju Majapahit ditempuh dengan jarak sekitar kurang lebih satu bulan. Setelah tiba beberapa saat di Majapahit, sesuai dengan tujuan pertama, maka Syarifah Zaenab dinikahkan dengan Kertajaya. Pernikahan ini nantinya akan mengundang perdebatan, karena ini jelas tentu akan bertabrakan dengan konsep pernikahan yang biasa dianut keluarga besar walisongo yaitu kafa’ah. Apalagi karena di satu sisi Syarifah Zaenab adalah seorang Ahlul Bait, sedangkan Kertajaya adalah seorang raja yang mualaf dengan keislaman yang tidak semua orang tahu, kecuali beberapa kerabat dekatnya.

Namun demikian rahasia pernikahan ini hanya Sunan Ampel dan wali wali lainnyalah yang lebih tahu bagaimana ke depannya nanti. Betapa pun demikian konsep pernikahan Kafa’ah antar keluarga besar walisongo tetap terjaga. Namun memang pasca pernikahan ini Islam bisa berkembang dengan pesat berkat lindungan dari Kertajaya dan nanti diteruskan oleh Brawijaya 5 atau Kertabumi. Sayang pernikahan ini tidak lama, karena adanya intrik-intrik yang terjadi dalam keluarga besar Kertajaya, sehingga menyebabkan Syarifah Zaenab dan Raden Fattah tersingkir. Syarifah Zaenab diceraikan Kertajaya, dan setelah masa iddah lewat maka Syarifah Zaenab diserahkan kepada Arya Dillah yang merupakan bawahannya di Palembang. Pernikahan antara Kertajaya dan Syarifah Zaenab tidak menghasilkan keturunan, artinya Kertajaya tidak bisa menghasilkan keturunan lewat rahim Syarifah Zaenab, lagipula kondisi Kertajaya saat itu juga mulai sakit-sakitan.

Dari pernikahan antara Syarifah Zaenab dengan Arya Dillah lahirlah Raden Husein. Raden Fattah dan adiknya dididik dan dibesarkan di Palembang. Di Palembang pada masa kecil dan dewasa nama Raden Fattah adalah Raden Hasan. Setelah dewasa ia bersama adiknya menuju Pondok Pesantren Ampel untuk belajar kepada pamannya yang bernama Sayyid Ahmad Rahmatullah atau Sunan Ampel. Setelah kurang lebih 3 tahun mereka mondok, maka Raden Fatah mengabdi kepada ayah tirinya sambil membuka sebuah kawasan untuk pusat penyiaran agama Islam yang berada disebuah hutan yang bernama Bintoro.

ISTRI ISTRI RADEN FATTAH 

1. Siti Asyiqah/Dewi Murtasimah binti Sunan Ampel
2. Putri Randusanga binti Adipati Randusanga
3. Putri Jipang binti Adipati Jipang
4. Alwiyah binti Syekh Subakir

Semua istri Raden Fattah mempunyai keturunan, baik itu laki-laki maupun perempuan, dan semua istri Raden Fattah ini adalah bangsawan-bangsawan yang berasal dari Majapahit serta dari keluarga besar Walisongo. Istrinya adalah perpaduan yang cukup unik, di sinilah Raden Fattah menunjukkan bahwa ia dan juga Walisongo mampu untuk berbaur dan berasimilasi dengan rakyat nusantara pada saat itu. Dan sebelum era Raden Fattah pernikahan dengan pribumi juga telah dilakukan, sehingga Raden Fattah tidaklah merasa sombong dan angkuh walaupun ia seorang sultan dan juga seorang Ahlul Bait Rasulullah SAW.

ANAK ANAK RADEN FATTAH

  1. Patih Rodin/Komaruddin/Badruddin
  2. Sayyid Muhammad Yunus/Sultan Yunus Surya/Raden Surya/Pangeran Seberang Lor1/Adipati Unus 1/Pati Unus 1/Sultan Demak II
  3. Sayyid Ali/Raden Bagus Surawiyata/Raden Kikin/Pangeran Sekar Seda Lepen
  4. Syarifah Jamilah/Ratu Mas Nyawa/Putri Gunung Ledang >< menikah dengan Raden Abdul Qodir bin Muhammad Yunus Al Mukhrawi Azmatkhan/Pati Unus 2
  5. Sultan Ahmad Abdul Arifin/Sultan Trenggono/Sultan Demak III
  6. Pangeran Purbo
  7. Raden Bagus Sido Kali
  8. Dewi Ratih (Menikah dengan Sayyid Amir Hasan bin Sunan Kudus Azmatkhan)
  9. Radeng Tumenggung Kanduruhan (Senopati Japan Ratu Sumenep)
  10. Pangeran Sulaiman
  11. Pangeran Daud
  12. Pangeran Musa
  13. Pangeran Yusuf
  14. Pangeran Muhammad
  15. Raden Pamekas

Semua anak Raden Fattah ini mempunyai banyak keturunan yang menyebar di berbagai wilayah Nusantara dan juga beberapa wilayah Asia Tenggara. Dan kelak dari keturunan Raden Fattah ini banyak yang menjadi ulama-ulama besar serta tokoh-tokoh politik dan juga pemimpin bangsa, baik dari bidang pemerintahan politik maupun militer. Mereka semua anak-anak Raden Fattah menyebar luas ke berbagai daerah untuk menyebarkan dakwah Islamiah yang sesuai dengan cita-cita Majelis Dakwah Walisongo yang salah satu anggotanya adalah Raden Fattah. Tidak hanya Raden Fattah, semua keluarga Walisongo keturunannya pun banyak yang mirip dalam hal apapun dengan keluarga besar Raden Fattah.

RADEN FATTAH DAN WALISONGO

Banyak fihak yang tidak mengetahui jika Raden Fattah sebenarnya adalah anggota Walisongo. Raden Fattah disamping sebagai Sultan Demak beliau merangkap sebagai anggota Walisongo, terutama Walisongo Periode ke 4 dengan menggantikan Maulana Ahmad Jumadhil Kubro. Sebelumnya tahun 1462 dalam usia 38 tahun, beliau diangkat menjadi Adipati Bintoro oleh Kerajaan Majapahit, dan pada tahun 1465 Masehi dalam usia 41 tahun membangun mesjid Demak dan akhirnya diangkat menjadi Sultan Demak dalam usia 44 tahun pada tahun 1468 Masehi, sehingga setiap keputusan Walisongo, beliau Raden Fattah ikut terlibat sekaligus ikut mengesahkan, karena ia adalah pemimpin Negara. Tidak banyak pemimpin pada masa sekarang yang bisa merangkap dua jabatan seperti ini jika ia tidak punya kemampuan yang kompleks, baik itu tata Negara dan juga agama dan Raden Fattah membuktikan jika ia punya kemampuan seperti itu.

Adapun Periode Wali Songo Angkatan ke-4 yang dalam masa pemerintahan Raden Fattah terutama pada era tahun 1466 – 1513 M, terdiri dari:

  1. Sunan Ampel Azmatkhan, asal Champa, Muangthai Selatan (w.1481)
  2. Sunan Giri Azmatkhan, asal Belambangan, Banyuwangi, Jatim (w.1505)
  3. Raden Fattah Azmatkhan, asal Majapahit, Raja Demak pada tahun 1465 mengganti Maulana Ahmad Jumadil Kubra (wafat tahun 1518)
  4. Fathullah Khan/Fatahillah Azmatkhan (Falatehan), asal Cirebon pada tahun 1465 menggantikan Maulana Muhammad Al-Maghrabi (wafat 1573)
  5. Sunan Kudus Azmatkhan, asal Palestina (wafat tahun 1550)
  6. Sunan Gunung Jati Azmatkhan, asal Palestina (wafat tahun 1567)
  7. Sunan Bonang Azmatkhan, asal Surabaya, Jatim (wafat 1525)
  8. Sunan Derajat Azmatkhan, asal Surabaya, Jatim (wafat 1533)
  9. Sunan Kalijaga Azmatkhan, asal Tuban, Jatim (wafat tahun 1513)

GURU GURU RADEN FATTAH

Semua anggota Walisongo, terutama yang usianya di atas Raden Fattah adalah guru dari Raden Fattah. Salah satunya gurunya yang paling dekat dengan Raden Fattah adalah Sunan Ampel dan Sunan Kudus. Sunan Ampel adalah paman beliau karena ibu Raden Fattah adalah adik dari Sunan Ampel, sedangkan Sunan Kudus adalah disamping sebagai ulama beliau juga merangkap sebagai Panglima Perang, Penasehat Militer, Naqib Nasab Walisongo, dan mendapat julukan Waliyul ilmi, karena begitu tingginya ilmu pengetahuan yang beliau miliki. Guru lain yang beliau miliki adalah ayah tiri beliau yaitu Arya Dillah, saat beliau masih berada di Palembang. Arya Dillah ini juga terkenal sebagai seorang pemimpin Palembang, namun juga menguasai ilmu-ilmu agama.

MAZHAB RADEN FATTAH 

Raden Fattah adalah produk dari keluarga besar Walisongo, sehinga setiap yang menjadi keputusan beliau baik itu yang bersifat agama atau umum selalu berdasarkan musyawarah Walisongo. Dasar ajaran Raden Fattah adalah Islam Ahlusunnah Wal Jama’ah, dengan bermazhabkan kepada Imam Syafi’i dan ini sesuai dengan konsep dan ajaran Walisongo. Thariqoh beliau juga berdasarkan Thariqohnya keluarga besar Alawiyyin. Pada masa Raden Fattah aliran islam Ahlussunah wal Jama’ah disebarkan dengan nilai-nilai kasih sayang serta toleransi yang tinggi.

MASA PEMERINTAHAN RADEN FATTAH

  1. Membuat UUD Kesultanan Demak yang bernama Jughul Mudha
  2. Mendirikan Masjid Agung Demak sebagai sentral penyebaran Islam dan pusat pemerintahan
  3. Membuka Hutan Glagah wangi untuk dijadikan pemukiman yang bernama Bintoro
  4. Menyebarkan Islam dengan damai sesuai dengan Thariqah Walisongo
  5. Memindahkan ke Demak beberapa pusaka, dan beberapa bangunan Majapahit yang terlantar
  6. Tidak mengadakan konfrontasi dengan Majapahit pada masa era Brawijaya 5
  7. Tidak Menyerang umat Budha dan Hindu yang hidup di bawah wilayah Kesultanan Demak
  8. Menerapkan toleransi yang tinggi terhadap agama lain dengan membiarkan agam lain beribadah dan menjaga bangunan-bangunan agama lain yang sudah ada (kelenteng, kuil, candi)
  9. Berperang dengan Majapahit era Dyah Ranawijaya (Brawijaya 6) disebabkan majapahit versi Brawijaya 6 menyerang Giri Kedaton
  10. Mematahkan kerjasama antara Brawijaya VII (Prabu Udara) dengan Portugis yang akan menjual negara bila berhasil mengalahkan dan mematahkan Islam
  11. Menjalin Kerjasama poros politik dengan Kesultanan Cirebon, Banten, Palembang, Malaka
  12. Melibatkan penuh peran walisongo dalam segala keputusan kepemerintahan
  13. Menyebarkan Islam dengan cara damai kepada masyarakat Jawa
  14. Menjadikan Demak sebagai Negara Islam pertama di Jawa
  15. Diangkat sebagai Sultan pada Kesultanan Demak oleh walisongo dan beliau diangkat bukan karena berdasarkan dia anak tiri kertajaya atau juga Kertabumi, namun karena kemampuan agama, politik dan militernya yang menonjol

KRATON KESULTANAN DEMAK 

Keraton Kesultanan Demak bukanlah seperti bangunan mewah, ia hanya merupakan sebuah gedung bahkan rumah biasa yang ditempati oleh Raden Fattah dan keluarganya. Raden Fattah memiliki hidup yang sederhana, ia tidak terbiasa dengan kehidupan mewah, jadi kraton milik beliau itu ya rumah beliau itu, sedangkan pertemuan kenegaraan atau pertemuan dengan walisongo dilakukan di Mesjid Demak. Jadi Kraton yang sesungguhnya dari Raden Fattah adalah Mesjid Demak, yang merupakan bangunan multi fungsi, baik dia sebagai tempat ibadah maupun untuk kegiatan kegiatan lainnya.

KONTROVERSI TERHADAP RADEN FATTAH

  1. Dituduh sebagai anak durhaka karena menyerang Majapahit era Brawijaya 5, padahal runtuhnya Majapahit itu karena serangan Dyah Ranawijaya (menantu Brawijaya 5 atau ipar tiri dari Raden fattah)
  2. Dituduh telah meruntuhkan kehebatan peradaban nenek moyangnya
  3. Dituduh sebagai anak haram dari Brawijaya 5
  4. Dianggap sebagai biang kerok runtuhnya agama terdahulu yang sudah lebih dulu eksis
  5. Ibunya dituduh sebagai seorang selir dan putri china, padahal ia muslimah sejati
  6. Dituduh lahir dari identitas yang tidak jelas
  7. Dituduh untuk ambisi dan mendesak Sunan Ampel untuk menyerang majapahit
  8. Berusaha dihilangkan peran dan sejarah hidupnya dalam sejarah Majapahit
  9. Lebih dimunculkan mitos dan legendanya daripada peran keislamannya
  10. Dituduh tidak mempunyai anak laki-laki (tidak memiliki keturunan)
  11. Sengaja dihilangkan asal usul keluarganya yang berasal dari nasab Keluarga Besar walisongo
  12. Ditonjolkannya sisi lain yang tidak ada hubungan dengan hidupnya agar peran sentral sebelumnyalah yang menjadi acuan dalam menilai sejarah demak, bukan dari keluarga besar Walisongo
  13. Dituduh bahwa anak-anak dan cucu-cucunya terlibat konflik berdarah karena perebutan tahta, padahal selama hidupnya Raden Fattah telah mengajarkan kehidupan sufi kepada anak dan cucunya
  14. Menuduh walisongo dimasa Beliau adalah orang-orang yang telah telah menyebabkan hilangnya sebuah Negara besar yang sudah mapan

KEWAFATANNYA

Beliau wafat pada usia yang cukup sepuh yaitu 94 tahun, pada hari Selasa tanggal 11 Sya’ban Tahun 924 Hijriah atau bertepatan pada tanggal 18 Agustus Tahun 1518 Masehi dan dimakamkan disamping Mesjid Demak berdampingan dengan istri, anak dan beberapa kerabatnya. Dengan diiringi kesedihan dari ribuan rakyat Demak, dan diiringi anggota Majelis Dakwah Walisongo saat itu, maka Sang Pendobrak Yang Berani itu akhirnya kembali keharibaan Allah SWT dengan tenang. Semoga amal ibadahnya diterima disisi Allah SWT.

Wallahu A’lam Bisshowab

DAFTAR PUSTAKA

RUJUKAN UTAMA
Sayyid Baharudin Azmatkhan & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, KITAB NASAB ENSIKLOPEDIA NASAB ALHUSAINI, halaman 105 bab Raden Fattah, Penerbit Madawis tahun 2011.

RUJUKAN PENDAMPING
Agus Sunyoto, WALI SONGO, Rekontruksi sejarah yang disingkirkan, Jakarta, Transpustaka, 2011
Abu Amar, Imron, KERAJAAN ISLAM DEMAK, Kudus, Penerbit Menara Kudus, 1996.
Abu Amar, Sunan Gunung Jati Cirebon, Kudus, Penerbit Menara Kudus, Tahun 1992.
Amin, Fatah Nur, METODE DAKWAH WALISONGO, Pekalongan, Penerbit CV Bahagia, 1997.
Aso Sumiarso, CATATAN NASAB KELUARGA BESAR CIGUGUR, Cimahi, tidak diterbitkan, 1964.
Badri Yatim, SEJARAH PERADABAN ISLAM, Jakarta, Penerbit Rajawali Press, Tahun 1993.
Bisyri Mustofa, TARIKHUL AULIA (SEJARAH WALI DINUSANTARA), KUDUS, Penerbit Menara Kudus, Tahun 1952.
Dahlan, KH. Mohammad. HAUL SUNAN AMPEL KE 555, Penerbit Yayasan Makam Sunan Ampel, Surabaya, 1979
Darmawijaya, SEJARAH KESULTANAN NUSANTARA, Jakarta, Penerbit Al Kautsar 2010.
Daryanto, RADEN FATAH, Bara diatas Demak Bintara, Penerbit Tiga Kelana, 2009.
De Graff, KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI JAWA, Jakarta, Penerbit Grafiti, 2003.
Darmawijaya, KESULTANAN ISLAM NUSANTARA, Jakarta, Penerbit AL Kausar, 2010
Departemen Agama, ENSIKLOPEDIA ISLAM, Jakarta, Penerbit Depag, 1993.
Haji Unang Sunarjo SH, “Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cerbon 1479-1809” Penerbit Tarsito, Edisi ke 1, Bandung, 1983.
Helmiati, SEJARAH ISLAM ASIA TENGGARA, Ha, Bandung, Penerbit Nusa Media & Zanaf Publising, Tahun 2011.
Hasanu Simon, MISTERI SYEKH SITI JENAR, Pustaka Pelajar, Tahun 2007.
Iwan Mahmud, SEJARAH DESA GUNUNG BATU DAN ARIA PENANGSANG, PRIBADI, 2005.
Iwan Mahmud, CATATAN NASAB KELUARGA BESAR ARIA PENANGSANG, PRIBADI, 2004.
Joko, PANEMBAHAN SENOPATI (PENDIRI KERAJAAN MATARAM) Jakarta, Penerbit Pradnya Paramita, Tahun 1983
Yosef Iskandar, SEJARAH JAWA BARAT, Hal 263 s/d 270, Bandung, Penerbit CV Geger Sunten, Tahun 1997.
Kiagus Imran Mahmud, SEJARAH PALEMBANG, Palembang, Penerbit? Tahun……
TIM Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, ENSIKLOPEDIA ISLAM INDONESIA, 2009, Penerbit Djambatan, tahun 1993
Slamet Mulyana, RUNTUHNYA KERAJAAN HINDU JAWA DAN TIMBULNYA NEGARA NEGARA ISLAM DI NUSANTARA, Hal 242 s/d 245, Jogyakarta, Penerbt LKIS, Tahun 2007.
Sagimun M.D, Sejarah Jakarta Dari Tepi air Ke Kota Sampai Dengan Masa Proklamasi, Pemda DKI, Dinas Musium Sejarah, Tahun 1988.
Suwito, BABAD TANAH JAWI (GALUH MATARAM), Jakarta, Yayasan Idayu, 1970.
Sayyid Thohir Al Haddad, SEJARAH MASUKNYA AGAMA ISLAM DITIMUR JAUH, Jakarta, Penerbit Lentera, 2001.
Umar Hasyim, SUNAN MURIA, ANTARA FAKTA DAN LEGENDA, Kudus, Penerbit Menara Kudus, Tahun 1983
Yuliadi Sukardi, SUNAN KUDUS SYEKH JAKFAR SHODIQ, Bandung, Penerbit Pustaka Setia Bandung, Tahun 2004.

Situs

http://id.wikipedia.org/wiki/Trenggana
http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang
http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Patah
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Demak
http://id.wikipedia.org/wiki/Walisongo#Walisongo_Periode_Pertama
http://id.rodovid.org/wk/Orang:275008
http://id.rodovid.org/wk/Orang:188326
http://asalsilahipunparanata.blogspot.com
http://sejarahgunungbatu.blogspot.com
http://madawis.blogspot.com
http://demak-ku.blogspot.com/2012/06/manaqib-sejarah-singkat-sultan-fatah.html
http://www.facebook.com/azmatkhanalhusaini
http://ibnurusydi.blogspot.com/2011/06/champa-negara-melayu-yang-hilang-dari_11.html
Babad Tanah Jawi……RADEN FATAH Penakluk MAJAPAHIT
http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=7&id=1148

Disadur dari sebuah tulisan oleh Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh dan Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan

Sumber: Majelis Dakwah Walisongo

• telah dilihat 1.513 kali • total 5 kunjungan untuk hari ini •
Manaqib Raden Fattah Azmatkhan 1424–1518 Masehi

Tulisan Terkait

Tag pada: