Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA)
» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
» Download
--------------------

Gambar bendera ini telah dipublikasi oleh A. W. T. Juynboll dalam tulisannya “Een Atjineesche Vlag Met Arabische Opschriften” (1873)—sungguh baik jika ada sahabat yang sudi menerjemahkan dan menerbitkan tulisan ini dalam bahasa Jawi atau Indonesia.

Bendera berwarna merah. Ada petak persegi empat yang tampak menindih gambar pedang di bawahnya, kemudian satu lingkaran bulat pada posisi setentang hulu pedang. Semuanya berisi tulisan Arab.

Bendera Aceh – A. W. T. Juynboll, 1873
  1. Petak persegi empat terdiri dari 100 kolom (10×10) berisi Asma’ Allah Al-Husna yang semuanya berhuruf awal “qaf”.

قائم قادر قدوس قاهر قيوم قديم قوي قابض قريب قابل التوبة
قادر قدوس قاهر قديم قابل التوبة قائم قيوم قوي قابض قريب
قدوس قاهر قديم قابل التوبة قريب قادر قائم قيوم قوي قابض
قاهر قديم قابل التوبة قريب قابض قدوس قادر قائم قيوم قوي
قديم قابل التوبة قريب قابض قوي قاهر قدوس قادر قائم قيوم
قابل التوبة قريب قابض قوي قديم قيوم قاهر قدوس قادر قائم
قيوم قديم قادر قدوس قاهر قوي قابض قريب قابل التوبة قديم
قوي قيوم قائم قادر قدوس قابض قريب قابل التوبة قديم قاهر
قابض قابل التوبة قيوم قائم قادر قريب قوي قديم قاهر قدوس
قريب قابض قديم قيوم قائم قابل التوبة قديم قاهر قدوس قادر

Keliling petak persegi empat tertulis satu bait dari Manzhumah Ad-Dumyathiyah (Sajak Ad-Dumyathi) atau Khawwash Asma’il Husna (kekhususan-kekhususan Asmaul Husna) yang disusun oleh syaikh yang sufi lagi wali, Nuruddin, yang dikenal dengan Ad-Dumyathi. Manzhumah (sajak) ini telah diberi komentar oleh seorang ulama ahli fiqh dan sufi terkenal dari Fez, Morocco, Syaikh Ahmad Zarruq (846-899 H). Bait sajak itu berbunyi:

(ويا قادر أهلك عدوي بكيده ؛ ومقتدر اردي الكذوب المقولا (مكرر

“Wahai Yang Maha Kuasa (Qadir) binasakanlah musuhku dengan tipu muslihatnya sendiri; dan Yang Maha Berkuasa pasti membinasakan pendusta dan pembuat kebohongan.” (Diulang)

Komentar Syaikh Zarruq: “Siapa saja yang menyebutnya (menzikirkannya; mengucapkan “Ya Qadir”) 100 kali setelah shalat dua rakaat, sedangkan ia orang yang lemah dalam ibadah, maka zikir tersebut akan menguatkannya dalam beribadah. Apabila ia menzikirkannya sejumlah yang disanggupi setelah berwudhu’, maka Allah akan menghancurkan musuhnya dan memenangkannya. Dan barangsiapa yang mengucapkannya saat terjaga dari tidur, niscaya Allah akan mengatur segala yang diinginkannya sehingga ia tidak perlu kepada seorang pun untuk mengaturnya. Lalu, orang yang bangun di tengah malam, berwudhu’ dan shalat dua raka’at dengan pada raka’at pertama membaca Ummul Qu’ran (Al-Fatihah) serta surat Al-Fil 40 kali, dan pada rakaat kedua membaca Ummul Qur’an serta surat Al-Kafirun 40 kali, dan itu dilakkkan pada malam-malam bulang terang. Apabila telah selesai shalat, lalu Anda sujud seraya mengucapkan dalam sujud Anda itu 100 kali kalimat: Ya Qadir, Ya Muqtadir, Ya ‘Aziz, Ya ‘Alim (Wahai Yang Maha Kuasa, wahai Yang Maha Berkuasa, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Maha Mengetahui), dan penutup dari sujud Anda membaca: Allahumma khuz haqqi min fulan bin fulan waj’alhu ‘ibratan lil mu’tabirin ya Syadid, Allahumma ahlikhu kama halakta qauma Fir’aun innaka ‘aka kulli syai’in Qadir (Ya Allah, ambillah hakku dari si polan anak si polan, dan jadikanlah ia sebagai pelajaran bagi orang-orang yang mengambil pelajaran, wahai Yang Maha Keras. Ya Allah, binasakanlah ia sebagaimana Engkau binasakan kaum Fir’aun, sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu Maha Kuasa), maka inilah pedang para aulia dan ia merupakan penutup yang diberkati sekaligus penolak segala hal yang Anda takuti. Maka barangsiapa yang senantiasa mengucapkannya, ia akan memperoleh semua yang telah disebutkan.” (selesai)

2. Pada gambar hulu pedang terdapat tulisan:
هذا المربوع (المربع) كان موضوعا على لواء الإسكندر
“Persegi empat ini telah diletakkan di atas bendera Iskandar.”
Dan pada bagian ujung pedang ditulis kalimat:
لا إله إلا الله

3. Dalam gambar lingkaran berisi tulisan:
بسم الله مجريها (كذا) ومرساها إن ربي
لغفور الرحيم (كذا) (هود: 41
نصر من الله وفتح قريب وبشر المؤمنين (الصف :13)

“Dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Hud: 41)

“Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang Mukmin.” (Ash-Shaff: 13)

Bendera perang Kerajaan Aceh bergambar pedang zulfikar ini terkena noda darah Letnan Pertama CH Bischoff dan memiliki lubang peluru di bendera ini. Letnan bischoff menyita dan merampas bendera perang kesultanan Aceh ketika dalam sebuah pertempuran dalam merebut sebuah benteng pasukan pejuang Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1840. Bischoff terkenang peluru pejuang aceh dan menderita luka luka. Beberapa hari kemudian pada tanggal 3 Mai 1840, Bischoff tewas karena luka terkenang peluru dan klewang yang dialaminya. Atas jasanya bisa merebut bendera ini, ia dipromosikan dari pangkat letnan menjadi kapten. Sungguh mereka membayar mahal dalam usaha menaklukkan Aceh

Sumber: Masyarakat Peduli Sejarah Aceh

Wallahu a’lam

• telah dilihat 160 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Bait “Manzhumah Ad-Dumyathiyah” pada Bendera dari Aceh

Tulisan Terkait

Tag pada: