» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

Di seluruh Indonesia dan semenanjung Malaysia, sejumlah besar situs-situs pemukim berasal dari periode pra sejarah Paleolithikum (zaman batu tua). Situs-situs ini dihuni oleh tiga kelompok umum dari populasi tipe ragawi modern:

  • Kelompok pertama diidentifikasi sebagai tipe Veddoid. Nama kelompok ini berasal dari sebuah komunitas yang bernama Vedda, yang hidup di Sri Lanka dan memperlihatkan ciri ciri ragawi dan kultural yang serupa. Terpisah dari Sri Lanka, komunitas-komunitas Veddoid seperti Kubu dan Sakai di Sumatera dan Toala di Sulawesi saat ini masih bertahan di Kepulauan Indonesia. Kelompok Veddoid ini terdiri atas orang-orang nomaden yang bertahan hidup dengan berburu dan mencari ikan.
The Veddah from Sri Lanka were categorised as having Australoid physical traits (wikipedia)
  • Kelompok kedua terdiri atas orang-orang Negrito. Saat ini sangat sedikit sekali komunitas Negrito yang bisa bertahan di bagaian Barat Indonesia dan semenanjung Malaysia, mereka juga membentuk sekelompok kecil komunitas pemburu dan pencari ikan
Negrito group photo (Malaysia, 1905) (wikipedia)
  • Kelompok ketiga terkait dengan kelompok Papua-Melanesia atau Austro-Melanesia, yang masih menjadi kelompok dominan di wilayah Timur kepulauan Indonesia

Berikut cara-cara para pemukim Indo-Melayu pra sejarah menjalani hidup mereka:

  •  Mereka para pemburu-pengumpul nomadik yang hidup dalam kelompok-kelompok keluarga yang kecil. Hubungan keluarga sangat renggang dan cair, mereka tidak memiliki pemimpin, tidak mengakui otoritas apapun, dan perempuan atau lelaki memiliki status yang sama
  • Makanan sangat didominasi oleh daging, mereka membunuh hanya untuk makan dan tidak pernah menyakiti binatang-binatang yang masih muda dan yang sedang bunting. Hasil buruan dibagi rata dalam satu keluarga. Selama musim-musim tertentu mereka juga mengkonsumsi umbi-umbian, buah-buahan tertentu dan madu
  • Mereka penganut monogami dan perkawinan adalah hal yang mudah. Saat dua keluarga berkumpul dan seorang anak lelaki dan aseorang anak perempuan saling suka satu sama lainnya, mereka berpaling pada orang tua si anak lelaki dan memberitahukan orang tua mereka tentang pernikahan mereka. Pasang baru tersebut lantas menerima beberapa barang yang berguna bagi hidup mereka sebagai hadiah perkawinan dan pernikahan itu dianggap telah sah. Pasangan-pasangan hidup bersama selama hidup mereka
  • Kematian dianggap sebagai hal yang alami dan biasanya tak ada upacara pemakaman yang khusus, mayat dikubur begitu saja. Tak ada pandangan tentang kehidupan jiwa setelah kematian
  • Anggota kelompok yang lebih tua memiliki pengetahuan medis yang efektif untuk menyembuhkan luka, luka potong dan retak tulang. Orang-orang begitu beradaptasi dengan lingkungannya dan mampu menggunakan segala yang ditawarkan hutan untuk sumber makanan, peralatan hidup, senjata dan obat-obatan.

Analisis atas sisa-sisa yang ditemukan di gua-gua dan pemukiman yang berlokasi di Kalimnatan dan semenanjung Malaysia menunjukkan bahwa saat makanan berlimpah, kelompok-kelompok yang lebih besar terkadang berkumpul dan bermukim bersama untuk sementara waktu.

Wallahua a’lam

Disadur dari sebuah tulisan Paul Michel Munoz

• telah dilihat 70 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Cara Hidup Pemukim Indo-Melayu Prasejarah

Tulisan Terkait

Tag pada: