» Jadwal Sholat Kota Palembang dan Sekitarnya
» Profil Yayasan Malaya
» Kegiatan Yayasan Malaya
Jadwal Imsakiyyah Ramadhan 1438 H untuk kota Palembang

TRIBUNSUMSEL.COM, JAMBI – Temuan petirtaan berupa sumur tua di Kawasan Candi Kedaton, di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, semakin menambah pengetahuan dan informasi keberadaan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Temuan itu juga menghangatkan polemik di mana sesungguhnya pusat Kerajaan Sriwijaya.

Muncul hipotesa Kerajaan Sriwijaya tidak pernah menjajah Kerajaan Melayu. Justru Kerajaan Melayu yang disebut Biksu I-Tsing pada pelayaran pertama menuju India telah berubah nama menjadi Kerajaan Sriwijaya.

Tribun Sumsel didampingi Bujang, giude Situs Candi Kedaton, Selasa (16/7), menelusuri komplek candi tempat dilakukan proses ekskavasi oleh tim peneliti dari Universitas Indonesia akhir Juni lalu.

Komplek Candi Muara Jambi berada dalam kawasan tujuh desa di dua kecamatan. Masyarakat di sini percaya jika mereka merupakan keturunan asli nenek moyang kerajaan terdahulu. Pengakuan ini didasarkan pada kepandaian yang mereka miliki di bidang seni rupa, mengukir, dan bermain musik.

“Kepandaian masyarakat di sini mengukir dan bermusik itu diturunkan oleh leluhur dahulu,” ungkap Abdul Havizh alias Ahok, seorang tokoh pemuda desa yang juga pengurus Yayasan Kesenian Patmasana.

Ada hal yang menarik dari pengakuan mereka, asal muasal mereka akan keberadaan Kerajaan Sriwijaya di lokasi ini tidak begitu kuat. Masyarakat lebih mengakui jika kawasan ini merupakan peninggalan Kerajaan Melayu.

“Kalau masyarakat sini umumnya memercayai peninggalan ini (candi, Red) merupakan peninggalan Kerajaan Melayu, tetapi saya sendiri tetap meyakini di sini pernah ada Sriwijaya,” ungkapnya.

Masyarakat meyakini ketika terjadi perpindahan Kerajaan Melayu dari Muara Jambi ke Dalmasraya (sekarang Sumatera Barat) ada sebagian yang tidak ikut rombongan dan memilih tinggal. Warga setempat meyakini jika mereka merupakan keturunan nenek moyang yang memutuskan untuk menetap tersebut.

Keberadaan Kerajaan Melayu di wilayah ini, menurut Ahok, dikuatkan dari posisi yang berada tepat di pinggir aliran sungai yang menjadi sarana transportasi pada zaman itu. Melalui aliran Sungai Batanghari rombongan kerajaan pindah menuju Dalmasraya.

“Ini lokasinya berada di pinggiran sungai. Melalui sungai inilah perpindahan menuju Dalmasraya ketika itu,” tuturnya.

Lemahnya kepercayaan akan keberadaan Sriwijaya di sini karena selain cerita turun-temurun yang tidak jelas, juga karena belum ada prasasti yang menyatakan wilayah tersebut merupakan kawasan pusat Sriwijaya.

“Masyarakat lokal tahunya candi-candi ini tidak boleh diganggu, atau dirusak. Tidak ada temuan prasasti yang menyatakan ini kawasan Kerajaan Sriwijaya,” kata Ahok.

Namun, sejarawan terkemuka di Jambi, Fachruddin Saudagar, mengatakan, Kerajaan Melayu yang disebut warga itu tak lain Kerajaan Sriwijaya.

Fachruddin mengatakan, nama Sriwijaya bersumber dari catatan perjalanan pulang seorang Biksu Budha asal China bernama I-Tsing, dari India menuju Kwang-chou pada akhir abad ke-7. Ia telah mencatat banyak kejadian di negeri-negeri Nan-hai (Laut Selatan) termasuk tentang Mo-lo-yeu (Melayu), dan Sriwijaya.

“Nama Sriwijaya berawal dari catatan pelayaran pulang I Tsing. Ia mengatakan Melayu menjadi Sriwijaya. Dalam perjalanannya menuju India sebelumnya tempat yang disinggahinya bernama Melayu,” ungkap kepada Tribun Sumsel, Rabu (17/7).

Fakta ini kemudian mendasari Fachrudin untuk mengurai sejarah Kerajaan Maritim terbesar di negeri ini.

“Hipotesa saya, Melayu tidak dijajah Sriwijaya. Melayu sebagai wilayah inti (inner core) Sriwijaya. Ini berangkat dari catatan perjalanan I-Tsing yang tidak pernah menyebutkan Melayu dijajah Sriwijaya, yang ada hanya kalimat Melayu menjadi Sriwijaya,” kata Sejarawan Jambi, Fachruddin Saudagar.

Berdasarkan hal ini ia berpendapat Sriwijaya berada di Jambi, kompleks percandian Muara Jambi. Ia juga berpendapat Sriwijaya merupakan perkembangan Melayu. Kerajaan Sriwijaya juga tidak pernah berpindah tempat (pusat kerajaan), karena Melayu dan Sriwijaya satu bagian.

“Catatan I-Tsing menyebutkan posisi ia ketika itu (singgah di Sriwijaya) berada ketika posisi bayangan kepala pada tengah hari berada di kaki, ini menafsirkan posisinya ketika itu di Katulistiwa. Selain itu ia menyebutkan ibukota Sriwijaya terdapat banyak candi-candi, di sana sedang belajar lebih kurang seribu biksu-biksu yang. Terakhir kawasan ini berada di dekat sungai. Ini kemudian kenapa akhirnya merujuk kawasan kompleks candi Muarojambi sebagai pusat kerajaan,” ulasnya.

Berdasarkan catatan yang menyebutkan kawasan tersebut terdapat banyak Pendeta Budha yang belajar ilmu pengetahuan, dipastikan wilayah tempat belajar merupakan suatu kawasan yang luas, sehingga mampu menampung ratusan, bahkan ribuan pendeta Budha.

Menurut dia, jika dilihat total luar komplek Candi Muara Jambi akan cocok, karena luas total kompleks percandian ini mencapai lebih kurang 17,5 kilometer persegi.

Temuan-temuan ini kemudian disimpulkan Guru Besar Arkeologi UI, Prof Agus Aris Munandar, bahwa Kerajaan Sriwijaya berada di Jambi. Berdasarkan analisanya, petunjuk terdahulu yang ditemukan di Kota Palembang hanya meninggalkan tanda-tanda ancaman yang tercantum di dalam prasasti.

Sehingga dia meyakni pusat Kerajaan Sriwijaya berada di situs Candi Kedaton yang banyak ditemukan berbagai artefak bekas reruntuhan candi. Namun analisa Agus dibantah kepala Badan Arkeolog Palembang, Nurhadi Rangkuti dan Pakar Sejarah Unsri, Dr LR Retno Susanti. Keduanya menyebutkan, Kerajaan Sriwijaya di Palembang memang pernah pindah ke Jambi, tetapi tetap berpusat di Palembang.

Wallahu a’lam
Sumber: Tribun Sumsel

Candi Kedaton Muara Jambi

Ekskavasi – Seorang masyarakat setempat sedang melakukan ekskavasi penggalian Candi untuk membantu Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi di komplek Candi Kedaton dalam kawasan percandian Muarajambi,Selasa (16/7/2013). Foto: TRIBUNSUMSEL.COM/ABRIANSYAH LIBERTO

• telah dilihat 496 kali • total 1 kunjungan untuk hari ini •
Masyarakat Jambi Keturunan Raja Kerajaan Sriwijaya?

Tulisan Terkait

Tag pada: